Berita

  • GIZ DALAM SEMINAR & INSTITUTIONAL CAPACITY BUILDING DI BBRSBG
    Monday, 26 September 2016

    Oleh Edhi Prabawa 

    GIZ (Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit - Masyarakat Jerman untuk Kerjasama Internasional) yang telah enam tahun menjalin kerja sama dengan Kementerian Sosial RI, kali ini berkiprah di BBRSBG Kartini Temanggung.


     

    Dengan mengambil judul “Seminar & Institutional Capacity Building di BBRSBG Kartini Temanggung”, Mr. Frank Schneider, salah satu petugasnya, menjadi narasumber di acara yang dilangsungkan di Aula BBRSBG. Dengan dimulai hari ini, 26 September 2016 pukul 09.00, mengikutsertakan seluruh pejabat struktural, kepala instalasi, dan koordinator jabatan fungsional. 

    Dalam pembukaannya, Kepala BBRSBG, Dra. Murhardjani, MP, menyampaikan bahwa sesi ini diawali dengan sharing dari para penanggung jawab kegiatan berupa hambatan yang selama ini mereka alami. Dengan dimulai dari Bidang Rehabilitasi Sosial, satu per satu mereka mengemukakan kendala dan kadang ada yang menyampaikan solusi dalam lingkup kerja mereka. 

    Sesi berikutnya, ialah paparan dari Mr. Frank, yang berisi, antara lain pengalaman dia dalam mengunjungi empat panti sosial: PSBRW Bambu Apus, PSBN Melati Bekasi, PSBD Palembang, PSBL Banjar Baru. 

    Beberapa hal yang perlu mendapatkan perhatian:
      • Pendekatan multifaset diperlukan untuk penyandang disabilitas untuk menyadari potensi individu secara penuh dan untuk memaksimalkan kontribusi sosial dan ekonomi ke masyarakat.
      • Sementara peraturan tentang penyertaan/inklusi penyandang disabilitas telah ada,  masih ada kesenjangan yang signifikan dengan penegakan dan pelaksanaan kontekstual.
      • Terdapat sikap-sikap yang merugikan dari masyarakat dan keluarga di mana penyandang disabilitas hidup, yang mempengaruhi sikap penyandang disabilitas itu sendiri, memperlambat proses penyatuan dalam masyarakat dan lapangan kerja.
      • Seleksi keterampilan vokasi/kejuruan dari Panti dilakukan berdasarkan keputusan yang ditentukan dan tidak berdasarkan penelitian terhadap keterampilan kognitif dari tiap tipe disabilitas.
      • Hal yang tidak mungkin dan tidak diinginkan bagi sektor publik untuk `melakukan semua hal`. 

    Dia memberikan contoh yang baik tentang penguatan kerjasama dengan perusahan swasta dalam menangani penyandang disabilitas. Dia memberikan contoh yang baik tentang PSBRW Bambu Apus yang telah mempublikasi buku testimonial mengenai `jaringan` yang didistribusikan kepada calon pemberi kerja, dimana pada Pekerja Sosial secara aktif membangun hubungan baru dengan para calon pemberi kerja.

    Menjawab pertanyaan mengenai latar belakang dan tindak lanjut kunjungannya di BBRSBG, Mr. Frank menyampaikan bahwa kerjasama dengan Kemensoslah yang menjadi landasan dan tindaklanjutnya ialah rekomendasi bagi penanganan penyandang disabilitas intelektual yang lebih baik.

    Acara selanjutnya ialah paparan dari Dr. Mukhlas Suseno, MM, Dosen Universitas Negeri Jakarta (UNJ) yang sekaligus merupakan Konsultant GIZ Bidang Kurikulum dan Soft Skills Training.. Beliau menyampaikan materi tentang Kurikulum, Silabus, Rpp & Bahan Ajar.  Bagaimana tujuan kurikulum `nyekrup` dengan tujuan nasional dan tujuan institusional, dlsb. Kurikulum, meskipun diperuntukkan bagi penyandang disabilitas intelekteual, hendaknya, sejauh mungkin mengandung 3 aspek proses pemikiran dalam otak manusia, yaitu aspek kognifit, afektif, dan psikomotorik. Juga dikemukakan tentang Taksonomi Bloom.

    Setelah PM selesai mengikuti bimbingan di kelas, para pembimbing pun diikutsertakan dalam acara ini. Hari pertama ini acara selesai pada pukul 16.00 WIB.


Berita Lainnya