Berita

  • PERINGATAN HARI DISABILITAS INTERNASIONAL TAHUN 2016 DI JEMBER
    Sunday, 04 December 2016

    Benar, hari ini, 3 Desember 2016, merupakan hari besar bagi penyandang disabilitas. Hari Disabilitas Internasional (HDI) dirayakan tiap tanggal 3 Desember oleh seluruh dunia. Pusat dan puncak perayaan HDI  di Indonesia, pada tahun 2016 ini diselenggarakan di Jember.

    Tidak berlebihan jika perayaan ini terselenggara dengan meriah. Dengan penataan stage yang modern dan megah, merupakan cerminan perhatian yang semestinya bagi para penyandang disabilitas.  Sebelum dimulai, Bupati Jember, dr. Faida, MMR, berkenan berjalan bersama para penyandang disabilitas (PD) menuju lokasi perayaan, di Alun-alun Jember meski hujan mengguyur tiada henti. Semua sepakat, bahwa hujan ini merupakan berkah dari Tuhan Yang Mahaesa. Selain itu, digelar juga stand pameran dari penyandang disabilitas, Kementerian Sosial, dan masyarakat umum.

    Acara dimulai dengan senam difabel, dilanjutkan dengan qiro’ah oleh Ferianto, penyandang disabilitas sensoris mata. Selain pandai qiro’, dia juga pandai bermain orgen, menyanyi. Dia saat ini duduk di semester V Prodi PLB IKIP PGRI Jember. Kabarnya, dia pernah mengalami diskriminasi saat akan masuk sekolah tertentu.

    Acara berlanjut dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya oleh seluruh hadirin, dilanjutkan pembacaan doa yang cukup mengundang haru, yang dipandu oleh penyandang disabilitas sensoris mata. Salah satu kalimat yang cukup mengharukan ialah “… ini (kedisabilitasan) merupakan kelebihan yang Engkau berikan kepada kami untuk mensyukuri nikmat-Mu…”

    Berikutnya ialah persembahan suara emas dari Putri Febriana Sari (PD sensoris netra – juara solo vocal dalam rangka HDI 2016) dengan judul “Bunda”, yang membuat semua hati hadirin menangis haru…

    Kesempatan berikutnya ialah laporan dari Ketua Umum Perkumpulan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI), Drs. Gufroni Sakaril (Ketua Umum 2012-2016 dan 2017 – 2021).  Disampaikan, bahwa  tangal 3 Desember merupakan hari raya dan hari bersejarah bagi penyandang disabitas seluruh dunia. Tema HDI kali ini ialah “Membangun Masyarakat Inklusif, Adil, dan Berkesinambungan Bagi Penyandang Disabilitas Untuk Indonesia Yang Lebih Baik”. Beliau menyampaikan bahwa paradigma penanganan penyandang disabilitas telah berubah dari belas kasihan kepada pemenuhan hak. Terlebih lagi dengan telah disahkannya Undang-undang tentang Penyandang Disabilitas pada tahun ini (UU no. 8 tahun 2016). Pemenuhan hak penyandang disabilitas merupakan bagian dari hak azasi manusia.  Undang-undang ini menempatkan setiap individu penyandang disabilitas mendapatkan jaminan penghormatan, kemajuan, perlindungan,  dan pemenuhan hak azasi manusia dari negara. Negara dan masyarakat diharapkan mampu menguatkan eksistensi penyandang disabilitas agar menjadi kuat dan tangguh dalam bentuk penumbuhan iklim dan pengembangan potensi. Penyandang disabilitas mempunyai kedudukan dan hak yang sema dengan warga negara lain. Penyandang disabilitas juga mempunyai hak dan kesempatan menjadi bupati, menteri, atau presiden, karena hak tersebut dilindungi perundang-undangan. PR besar saat ini ialah mendorong lahirnya peraturan pelaksanaan dari undang-undang tersebut untuk akselerasi implementasinya, yaitu Peraturan Pemerintah, Keputusan Presiden, Keputusan Menteri, Peraturan Daerah, dll. Kemudian perlu adanya harmonisasi peraturan-peraturan yang menyangkut penyandang disabilitas, karena pemenuhan hak penyandang disabilitas akan lebih efektif jika dilaksanakan secara multisektoral. Disampaikan juga bahwa beberapa rangkaian acara telah diselenggarakan beberapa waktu sebelum acara puncak ini. Sebut saja, misalnya acara nonton bersama Dangdut Akademi Asia di studio Indosiar pada tanggal 18 November 2016. Kemudian pada tanggal 20 November berlangsung acara renungan dan doa bersama dengan peserta lebih dari 1000 orang.  Ada pula lokakarya dan jalan sehat oleh seluruh RRI se-Indonesia. Bahkan, jalan sehat ini telah menjadi agenda tahunan oleh RRI beberapa tahun  terakhir ini.  Selanjutnya ada e-warung disabilitas, senam disabilitas (tercatat di rekor MURI), pameran karya disabilitas, pembuatan media sosial disabilitas, penghargaan dari Kemendikbud, penghargaan dari Kemensos, dan bantuan sosial bagi penyandang disabilitas. Tidak ketinggalan, disampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan kepada perguruan tinggi, masyarakat, dan perusahaan yang telah banyak  berupaya dalam pemenuhan hak penyandang disabilitas. Disampaikan juga apresiasi kepada NGO (Non-Government Organization – lembaga swadaya masyarakat – LSM) yang juga telah berperan dalam hal serupa.

    Laporan ditutup dengan pantun:

    Hujan lebat di bulan Desember

    Beli Baju di Salemba Brutas

    Memang hebat Bupati Jember

    Kotanya maju dan peduli disabilitas

     

    Acara berikutnya ialah penyerahan secara simbolis Perda Disabilitas dari DPRD Kab. Jember dan Bupati Jember kepada Menteri Sosial. Perda tersebut disahkan tepat pada hari ini.

    Bupati Jember, dr. Faida, MMR, yang mendapatkan kesempatan berikutnya untuk meberikan sambutan, menyampaikan terima kasih atas kepercayaan Kementerian Sosial kepada Kabupaten Jember sebagai tuan rumah acara puncak peringatan HDI 2016 dengan sambutan gegap gempita  dari masyarakat dan pihak-pihak terkait. Kecacatan fisik bukanlah merupakan suatu aib.  Aib yang sebenarnya ialah kecacatan hati yang tumpul, tidak peduli dan teribasa acuh kepada kesulitan sesama. Kita perlu belajar banyak dari papra difabel kita, yang menjaga semangat dan rasa syukurnya bahwa kita semua perlu meneladani para difabel di Indonesia. Bupati dan seluruh jajarannya hingga lurah/kepala desa, siap menjalani Perda Disabilitas Jember, agar Jember meningkat menjadi kota inklusi. Kepedulian dan akses di Jember bagi difabel telah meningkat. Diharapkan agar di sekolah-sekolah di rumah makan, di warung-warung dan fasilitas publik lainnya  agar diberikan akses kepada para difabel agar kita dapat hidup bersama-sama dengan para difabel, hidup berbahagia bersama sama, hidup yang rahmat, hidup yang damai, hidup yang penuh barokah. Beliau juga mengajak agar Jember menjadi kota inklusi, Jawa Timur menjadi provinsi yang inklusi, dan Indonesia juga menjadi negeri yang inklusi.

    Berikutnya ialah penyerahan rekor MURI untuk  :

    • senam disabilitas dengan peserta terbanyak
    • media partner gerak jalan disabilitas
    • pemasangan kaki palsu oleh Yayasan Kasih Tunadaksa

     

    Berikutnya ialah hiburan oleh artis Dewi Yull yang menyanyikan 4 buah lagu berturut-turut. Uniknya, sembari bernyanyi, Dewi Yull juga memberikan isyarat tentang arti kata-katanya agar bisa dipahami oleh para PD sensoris telinga. Beliau juga mohon doa restu hadirin bagi putranya Panji Surya Putra Sahetapy (PD sensoris telinga) yang sedang membela nama bangsa di ajang sepak bola tuli ASEAN di Malaysia. Pada kesempatan ini, Dewi Yull juga mengajak berduet dengan Putri Febriana Sari. Yang jelas, Putri bisa mengimbangi suara emas Dewi Yull. Tidak sampai di situ, bahkan Dewi Yull juga mangajak Menteri Sosial, Khofifah Indar Parawansa untuk berduet juga. Benar-benar seru….

    Sesi berikutnya, penyerahan penghargaan, antara lain kepada RRI Samarinda, untuk kategori Kegiatan Pelayanan Publi, yang secara rutin memberikan kesempatan kepada disabilitas untuk mengudara pada tiap hari Rabu pukul 16.00 s.d. 17.00 WIB dalam program “Suara Disabilitas”.

    Dalam sambutannya, Menteri Sosial, Khofiah Indar Parawansa antar lain menyampaikan bahwa Perda Jember merupakan perda yang pertama kali disahkan menyusul diundangkannya  UU no. 2 Tentang Penyandang Disabilitas. Kemudian, perlu dibuat 12 Peraturan Pemerintah dari 23 kementerian untuk mengimplementasikan UU no. 8 tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas. Para penyandang disabilitas perlu berperan dalam pengusulan draft PP tersebut.


Berita Lainnya