Berita

  • Potret Kaum Disabilitas Intelektual Jadi Atletik, Seniman, hingga Barista
    Sunday, 16 December 2018

    (Press Release dalam rangka peringatan HDI tahun 2018 di BBRSPDI "Kartini" di Temanggung)

    TEMANGGUNG—Kaum disabilitas intelektual merupakan kaum yang paling termarginalkan dalam kehidupan sosial secara umum. Banyak yang menempatkan penyandang kelemahan kecerdasan ini sebagai  beban keluarga, sangat terpinggirkan hingga mendapat kutukan. Namun faktanya, jika diberikan kesempatan dan bimbingan yang tepat, mereka mampu menjadi seniman, atlet olahraga hingga menjadi barista.

     

    Potret ini tergambarkan secara nyata pada peringatan Hari Disabilitas Internasional (HDI) 2018 yang digelar oleh Balai Besar Rehabilitasi Sosial Penyandang Disabilitas Intelektual (BBRSPDI) Kartini di Temanggung, Senin (17/12). “Mereka adalah bagian dari lapisan masyarakat yang spesial, jika direhabilitasi dengan baik, maka mereka mampu berprestasi dalam bidang olahraga, seni, iptek dan lainnya. Tidak kalah dengan orang normal,” kata Kepala BBRSPDI Kartini di Temanggung, Dra. Murhardjani, MP.
    Ia menjelaskan, dalam peringatan HDI 2018 ini pihaknya menggelar secara terbuka kepada public hasil-hasil rehabilitasi yang dilakukan. Dari kalangan yang semula termarginalkan, mereka telah mampu memiliki prestasi dalam bidang seni, olahraga dan ketrampilan tertentu yang mampu menunjang kehidupan ekonomi nantinya. “Namun perlu kesabaran, ketelatenan dan waktu yang cukup panjang untuk menjadikan mereka seperti ini,” tambahnya.

    Ia mengatakan, beberapa gelaran tersebut adalah lomba bocce untuk kalangan low ability yang diikuti penyandang disabilitas putra dan putri. Selain itu, parade seni dalam bentuk tarian, music, gerak dan lagu serta berbagai kegiatan lainnya. “Ini diikuti oleh penyandang disabilitas intelektual se-Jawa Tengah dan DIY,” katanya.
    Pada kesempatan ini pula, pihaknya melaunching program baru, yakni pelatihan barista bagi kalangan  penyandang disabilitas intelektual. Ia menjelaskan, BBRSPDI Kartini di Temanggung telah bekerjasama dengan Java Temanggung Coffee untuk melatih penerima manfaat mendapatkan ketrampilan penyajian kopi. “Tren minum kopi saat ini terus mengalami peningkatan di berbagai kelas sosial. Hal ini terlihat dari menjamurnya kedai kopi lokal di banyak daerah. Ini memuncukan profesi baru sebagai barista. Dan kita mencoba menangkap peluang tersebut,” lanjutnya.

    TSetelah memiliki ketrampilan tersebut, diharapkan penyandang disabilitas intelektual mampu hidup secara mandiri dalam hal ekonomi. Ketrampilan barista dapat dijadikan sumber mata pencaharian secara kontinyu karena tradisi minum kopi akan semakin meningkat kedepannya. “Livelihood capacity, yakni kapastias untuk bisa hidup secara mandiri dan sejahtera bagi penyandang disabilitas intelektual. Mereka memiliki keahlian dan dapat menggunakan keahlian tersebut untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Kemandirian semacam inilah yang kita targetkan,” tandasnya. (*)


Berita Lainnya